Belanja on line

Saturday, August 16, 2014

Jenis projector

  Jenis - Jenis Proyektor


Dari bentuk, berat dan kegunaannya, proyektor memiliki jenis - jenis yang berbeda, mulai dari yang paling kecil hingga yang besar. Berikut adalah klasifikasi proyektor :

Proyektor Pico dan Pocket 
Proyektor jenis ini mempunyai bentuk yang kecil dan sangat ringan sehingga dapat dimasukkan di dalam saku. Dengan berat kurang dari 0.5 kg, dan mempunyai umur lampu yang panjang karena memakai lampu LED. Untuk Brightness tidak lebih dari 500 Lumens.
Rekomendasi penggunaan :
·                      - Mobile User


Contoh Proyektor Pico dan Pocket
Proyektor Portable
Proyektor Jenis ini mempunyai bentuk yang ramping dengan bobot tidak sampai 2 kg, mempunyai Brightness sampai dengan 3000 Lumens dan mempunyai fitur andalan seperti Auto Focus dan USB tipe A.
Rekomendasi penggunaan :
·                    -   Mobile user
·                    - Kantor
 

Contoh Portable Projector
Proyektor Entry Level
Proyektor jenis ini mempunyai mempunyai range brightness mulai dari 2200 – 3000 Lumens dengan resolusi mulai dari SVGA sampai dengan XGA.
Rekomendasi penggunaan :
·        Ruang kelas kecil dan Menengah
·        Ruang pertemuan kecil dan menengah
  Contoh Proyektor Entry Level 
Proyektor Middle Level
Proyektor jenis ini mempunyai range brightness mulai dari 2600 – 5000 Lumens dengan resolusi XGA sampai WXGA serta kaya akan fitur dan input koneksi seperti USB, Wireless Projection dll.
Rekomendasi penggunaan :
·        Ruang kelas menengah dan besar
·        Ruang pertemuan kecil dan menengah
 


Contoh Proyektor Middle Level
Proyektor Installation
Proyektor jenis ini mempunyai Range Brightness mulai dari 5000 – 20000 Lumens dengan Range resolusi mulai dari XGA s/d WUXGA juga di lengkapi dengaan lensa opsional serta beberapa fitur profesional seperti Lens Shift dan Geometric adjustment
Rekomendasi penggunaan :
·        Ruang seminar
·        Gereja
·        Rental
·        Auditoriums
   


Contoh Proyektor Installation
Proyektor Home Theater
Proyektor jenis ini mempunyai Range Brightness mulai dari 1000 – 3000 Lumens dengan resolusi HD Ready atau Full HD, Contrast Ratio yang sangat tinggi serta mempunyai bobot lebih dari 6 kg.
Rekomendasi Penggunaan :
·        Ruang Home Theater
·        Ruang keluarga
 
Contoh Proyektor Home Theater

Proyektor Short Throw 
Proyektor ini memungkinkan penggunanya untuk membuat tampilan yang besar dengan jarak yang dekat. Proyektor Short Throw  di desain khusus untuk kelas mengajar atau ruangan yang tidak mempunyai jarak yang cukup untuk menempatkan projector dengan tampilan proyeksi yang besar. 

Contoh perbandingan jarak tembak antara projector biasa dengan proyektor Short Throw 

Contoh proyektor short throw

Proyektor Ultra Short Throw 
Proyektor Ultra Short Throw  memiliki jarak yang sangat ekstrim ( sangat dekat ) untuk menghasilkan tampilan besar. Hanya membutuhkan ½ dari jarak proyektorshort throw  untuk menghasilkan besaran tampilan yang sama. Sinar proyeksi yang dihasilkan projector ini tidak akan terhalang oleh Pengajar. Biasanya projector Ultra Short Throw di aplikasikan untuk dunia pendidikan terutama untuk pemakaian Interactive Whiteboard.


Contoh perbandingan jarak tembak antara projector biasa, projector Short Throw dan projector Ultra Short Throw

Contoh proyektor ultra short throw

Viewing Angle

Mengenal Viewing Angle



Viewing angle adalah besaran derajat sudut pandang dari tampilan proyeksi tetap optimal. Besarnya viewing angle diperlukan agar hasil tampilan tetap layak dilihat walau tidak tegak lurus dengan screen.

Mengenal Screen Gain



Screen Gain

Gain adalah ukuran pembiasan atau refleksi cahaya Proyektor dari permukaan layar. Angka dari gain mewakili rasio cahaya yang terbias dari layar yang dibandingkandengan bias cahaya dari layar Matte White. Contoh : Screen dengan Gain 1.0 ditembakkan dengan Projector 2000 Lumens, akan mempunyai bias cahaya yang sama yaitu 2000 Lumens. Sedangkan Screen dengan Gain 1.5 ditembakkan dengan proyektor 2000 lumens, akan membiaskan 50% lebih banyak yaitu sebesar 3000 Lumens.

Mengenal Metode Proyeksi




Front Projection
Front projection adalah metode penempatan proyektor yang berada di sisi yang sama dengan permukaan screen yang digunakan sebagai tampilan. Front projection terbagi dua :
Front Desk
metode front projection dengan posisi proyektor berada di meja.

Front ceiling
metode Front Projection dengan posisi proyektor di atas/ di gantung di langit-langit.

Rear projection
Rear projection adalah metode penempatan proyektor yang berada di sisi seberang dari permukaan screen yang digunakan sebagai tampilan. Terdapat 2 macam Rear projection :
Rear Desk
Metode Rear projection dengan posisi proyektor berada di bawah/ di atas meja.

Rear Ceiling
Metode Rear projection dengan posisi proyektor berada di atas / di langit- langit.




Mengenal Screen Surface

Mengenal Screen Surface



Berikut ini adalah beberapa jenis screen surface :
1.     Matte White
Matte White adalah Permukaan layar berwarna putih dan yang paling serbagunaserta banyak digunakan untuk Front ProjectionMatte White juga mempunyai Viewing angle yang cukup besar. 
Screen Gain : 1.0 Viewing angle : 50o – 80o
2.     Matte Grey
   Matte Grey adalah permukaan layar berwarna abu-abu dan juga digunakan untuk Front Projection. Matte Grey cocok untuk Home Theater karena dapat meningkatkan Contrast dari hasil tampilan projector.akan tetapi memiliki Screen Gain yang cukup rendah.
Screen Gain : 0.6 – 0.9 Viewing angle : 50o – 80o
3.     Glass Beaded
Glass Beaded adalah permukaan layar yang mempunyai kesan serpihan kaca. Glass Beaded memiliki Screen Gain yang tinggi sehingga dapat melipatgandakan brightness proyektor, tetapi Glass beaded memiliki Viewing angle yang sangat terbatas yang akan mengurangi ketajaman gambar jika kita tidak melihat layar pada Viewing angle yang telah ditentukan.
Screen Gain : 2.0 – 3.5  Viewing angle : 30o – 40o
4.  Vinyl
 Vinyl adalah permukaan layar dengan permukaan halus, agak transparan dan lentur. Vinyl biasa digunakan untuk Rear projection atau Dual Projection (front and Rear). Vinyl juga mempunyai beberapa jenis seperti White Vinyl dan Grey Vinyl dengan perbedaan Grey Vinyl mempunyai Contrast yang tinggi.

Screen Gain : 0.8 – 1.2 Viewing angle : 50o – 80o

5.     Acoustically Transparent
Acoustically Transparent adalah sebutan untuk permukaan layar yang mempunyai pori – pori atau lubang pada layar.  Mengapa ? pernahkah anda melihat speaker depan dalam bioskop ? pasti tidak pernah. Ini dikarenakan speaker depan berada di belakang layar untuk mengeluarkan suara dari speaker depan. Inilah fungsi dari pori – pori atau lubang pada acoustically Transparent Screen. Permukaan layar ini sangat cocok untuk ruangan Home Theater ataupun Auditrium besar.
Screen Gain : 0.6 – 0.95 Viewing angle : 70o – 90o

Menetukan jarak layar

Cara Menentukan Ukuran Screen

Dalam menentukan ukuran screen yang baik dan idealpertama kita dapat memulainya dengan menentukan tinggi layar berdasarkan kepada rumus dibawahini:


 
Contoh : jika anda mempunyai jarak antara penonton terjauh dari layar atau kita asumsikan sebagai panjang ruangan yang digunakan (A) sebesar 15 meter, maka anda mendapatkan tinggi layar (H) sebesar 1/6 x 15 = 2,5 meter.  
Setelah anda mendapat tinggi layar (Height) yang ideal berdasarkan rumus di atas, Berikutnya anda dapat tentukan Lebar atau Diagonal layar berdasarkan Aspect Ratio dari projector dengan rumus :
Lebar Layar : W = H x AR
Diagonal Layar : D = W2 + H2
W : Lebar Layar     
H : Tinggi Layar      
D : Diagonal Layar
AR : Aspect Ratio dari Native resolusi Projector
Contoh : jika tadi anda mendapatkan tinggi layar sebesar 2.5 meter. Native Resolution projector anda misalkan XGA, berarti aspect ratio 4:3 atau 1.33 maka untuk mendapatkan lebar dan Diagonal layar adalah

  
Layar sudah mempunyai ukuran yang tetap, jika dari perhitungan anda tidak ada yang sesuai dengan ukuran layar yang sudah ada, maka anda dapat memilih ukuran dan tipe layar yang paling mendekati dengan ukuran yang telah anda hitung seperti tabel dibawah ini :

Mengenal Trow ratio

Mengenal Throw Ratio

Throw Ratio adalah perbandingan antara jarak tembak terdekat dan terjauh dari Lebar layar. Throw Distance adalah jarak tembak dari proyektor ke screen. Throw Ratio dipergunakan untuk mendapatkan Throw Distance atau jarak tembak yang ideal antara proyektor dengan Layar yaitu dengan rumus :
D = R x W
D = Throw Distance atau Jarak tembak           
R = Throw Ratio      
W = Lebar layar
contoh : jika anda memiliki proyektor dengan Throw Ratio 1.5-2.0:1 dengan lebar layar 4 meter, berapakah Throw distance terdekat dan terjauh dari proyektor tersebut?
jawab : Jarak tembak terdekat  : 1.5 x 4 = 6 meter, Jarak tembak terjauh : 2.0 x 4 = 8 meter.

Hasil terbaik Projector

Cara Menciptakan Hasil Terbaik Dari Proyektor


Untuk menghasilkan tampilan yang terbaik dari sebuah proyektor, ada hal – hal yang perlu diperhatikan. Karena setiap proyektor memiliki kelebihan dan kekurangan masing – masing, maka perlu diperhatikan hal – hal berikut ini :

Source Resolution
Setiap resolusi sumber tampilan harus “merujuk” pada resolusi native dari proyektor. Contoh:  jika anda mempunyai proyektor dengan resolusi SVGA, maka sumber tampilan anda ( kita asumsikan komputer ), harus mengikuti resolusi Proyektor tersebut menjadi SVGA yaitu 800 x 600. 


Ubah resolusi komputer mengikuti resolusi Native proyektor
Content
Yang dimaksud content disini adalah berupa file yang akan kita tampilkan. Ada 3 macam Konten yang harus diperhatikan yaitu:
Document Content
Jika ingin menampilan Document file seperti Word ataupun Excel, sebaiknya kita menggunakan besarnya Huruf atau angka dengan ukuran minimal 14 pts atau lebihagar tulisan dapat terlihat dengan baik.


Picture Content
Jika ingin menampilkan file – file berbentuk gambar dengan format seperti Jpeg, sebaiknya kita mencari  mempunyai resolusi persis  seperti resolusi native dari Projector. Contoh : jika proyektor anda memiliki resolusi native XGA, maka slide gambar juga harus mempunyai resolusi XGA yaitu 1024 x 768.



Video Content
Pastikan anda mempunyai File Video atau Movie dengan Format Full HD atau 1080p karena format tersebut merupakan format resolusi tertinggi saat ini. Anda bisa mendapatkan content dengan format tersebut melalui content Blu-ray Disc.

Connector and Connection Port
membuat tampilan terbaik juga wajib memperhatikan Connector dan Connection Port yang akan digunakan. Seperti yang sudah kita bahas pada buku sebelumnya, setiap connection port memiliki kemampuan  yang berbeda – beda , pilihlah Connection Port yang terbaik dari proyektor sesuai dengan Urutan Connection port dari yang terbaik sampai yang terendah berikut ini :
         HDMI
         DVI
     •         Component Video
         VGA / D-sub 15 pin
         S-video
         Composite


Media Player
Terakhir yang tidak kalah penting adalah pemutar media atau media player atau sumber tampilan. Media player dapat kita sesuaikan dengan Connection Port dari proyektor yang sudah kita pilih sebelumnya. Beberapa media player yang kita kenal :
Media Player
Connection Port
VHS
Composite
Betamax
Composite
Laser Disc
Composite
VCD
Composite, Component
DVD
Composite, Component, HDMI
Komputer / Laptop
D-sub 15pin, DVI, HDMI
Blu-ray
Composite, Component, HDMI

Rekomendasi : Pilihlah Blu-ray Player atau laptop yang mempunyai Port HDMI jika Proyektor anda juga memiliki Port HDMI.

Giskompindo -Mengenal 3D projector

  GUSKOMPINDO - Mengenal Teknologi 3D Pada Proyektor




Sebelum kita mengenal teknologi 3D pada proyektor, ada baiknya kita mengenal teknologi 3D yang akan digunakan. Dibawah ini akan coba dibahas secara sederhana kelebihan dan kekurangan dari masing2 sistem serta cara kerja 3D.
Cara Kerja 3D
Pada kehidupan sehari-hari, sebenarnya mata melihat suatu gambar dengan sedikit berbeda karena kita mempunyai 2 buah mata yang berjarak beberapa cm diantara keduanya. Seandainya kita menaruh jari di depan hidung maka kita tetap dapat melihat segalanya dibelakang jari tersebut. Jadi bagaimanapun kita menaruh jari untuk menutupi mata kita, maka kita tetap dapat melihat dengan mata yang lain. Otak mempunyai kemampuan untuk memperkirakan suatu jarak berdasarkan perbedaan antara pandangan mata kiri dan kanan. prinsip yang sama diciptakanuntuk menghasilkan efek 3D.
Kaca mata 3D (polarized, Anaglyph dan LCD shutter) semua dirancang agar mata kiri dan kanan dapat melihat sesuatu yang berbeda. Beberapa teknologi 3D memerlukan proyektor dan layar khusus agar efek 3D dapat memberikan efek 3D dengan baik dan beberapa teknologi ini juga diterapkan pada TV LCD / LED 3D sertaProyektor Home Theater untuk penggunaan rumahan.

3D Glasses

Sebelum kita mengenal format – format 3D, ada baiknya kita mengenal kacamata yang digunakan untuk menonton tampilan 3D. kacamata 3D terbagi 2, yaitu kacamata aktif dan pasif. Kacamata 3D aktif adalah kacamata 3D yang mempunyai daya atau baterai untuk menghasilkan tampilan 3D (LCD Shutter glass). sedangkan kacamata 3D pasif adalah kacamata 3D yang tidak menggunakan baterai untuk menghasilkan tampilan 3D (Anaglyph dan Polarized Glass). 

3D Anaglyph Glasses
Kaca mata 3D Anaglyph atau kaca mata Red Cyan adalah kaca mata yang digunakan pada film 3D versi generasi awal. Disini lensa merah akan memfilter sinar merah sedangkan lensa Cyan akan memblok warna cyan (warna biru kehijau-hijauan). Sehingga setiap mata akan melihat gambar yang berbeda.
Teknologi ini masih sering dipakai pada film2 TV lama tetapi industri perfilman 3D sekarang sudah beralih ke teknologi film digital dan polarisasi.


Contoh Kacamata Anaglyph

Polarized 3D Glasses
Kaca mata ini bersifat Pasif, artinya tidak ada daya atau baterai pada kacamata tersebut. Bioskop dan beberapa TV 3D serta Kaca mata polarisasi 3D bekerja dengan cara yang hampir sama seperti polarisasi pada sun glasses yang memblok sinar matahari. Polarisasi pada kaca mata 3D adalah dimana satu lensa memblok cahaya yang dipolarisasi horisontal sedangkan lensa yang lain memblok secara vertikal. Hal ini membuat proyektor dapat memberi efek gambar yang berbeda untuk setiap mata.


  
Contoh Kacamata Porarized

LCD Shutter 3D Glasses
Kaca mata jenis ini adalah kacamata yang digunakan untuk Proyektor 3D. Pada saat mata menggunakan kaca mata LCD shutter, maka kaca mata ini akan berkedip selang-seling / menutup bergantian untuk mata kanan dan kiri. Jadi ketika proyektor menampilkan suatu gambar yang ditujukan untuk mata kanan maka layar LCD akan secara otomatis untuk mengaktifkan kaca mata agar memblok mata kiri. Kemudian secara bergantian menutup mata kanan dengan cara yang sama. Walaupun tiap mata ditutup bergantian tetapi karena proses penutupan mata dilakukan secara cepat maka otak dapat mengkompensasi hal tersebut dan kita tidak sadar bahwa sebenarnya kaca mata tsb telah memblok pandangan kita secara bergantian. Kaca mata LCD Shutter 3D adalah suatu peralatan elektronik berbentuk kacamata dengan menggunakan battery sebagai catu dayanya dan layar LCD Yang berfungsi menutup dan membuka kanan dan kiri kacamata secara bergantian . Kaca mata 3D LCD versi awal mempunyai bentuk yang besar dan berat, sedangkan model yang lebih baru mempunyai bentuk lebih kecil seperti ukuran kaca mata biasa. 
  
Format 3D 
Ada beberapa Format 3D yang perlu dipahami terutama setelah keluarnya spesifikasi HDMI 1.3a, 1.3b, 1.3c dan 1.4 yang mempunyai spesifikasi baru yang memberikan kualitas dan standar yang lebih tinggi yang tidak terdapat pada versi sebelumnya (HDMI 1.3).
Format 3D Frame Sequential
terdiri dari alternate frames yang berurutan dimana setiap frame umumnya mempunyai resolusi HD. Setiap frame yang berurutan ini memiliki image untuk setiap mata (kanan dan kiri), jadi bila frame pertama membawa image untuk mata kiri, maka frame berikutnya akan membawa image untuk mata kanan, kemudian image untuk mata kiri lagi, dan begitu seterusnya. Jadi Proyektor 3D akan menampilkan gambar akhir dari 3D tsb secara Frame SequentialIni adalah alasan kenapa kaca mata 3D dengan model Active Shutter selalu menutup bergantian, hal ini dilakukan agar mata kiri dan kanan dapat melihat gambar yang khusus ditujukan untuk mata tsb. Ketika Proyektor menampilkan gambar untuk mata kiri, maka kaca mata akan menutup mata kanan, sehingga hanya mata kiri saja yang dapat melihat gambar yang memang khusus ditujukan untuk mata kiri tsb, begitu juga untuk gambar yang ditujukan mata kanan akan dilakukan proses yang sama.

Format 3D Side by Side ( SBS )
dalam 1 buah frame terdiri dari 2 buah sub-frames untuk kedua belah mata (kiri dan kanan). Ketika Proyektor menerima frame 3D Side by Side, maka Proyektor akan merubah frame tsb menjadi sub-frame kiri dan kanan dan melakukan proses upscale dari sub-frame tsb ke ukuran HD dengan menggunakan algoritma upscaling (seandainya original dari Side by Side terdiri dari setengah resolusi horisontal) dan kemudian menampilkan sub-frames dalam bentuk Frame Sequential untuk menghasilkan effek 3D.
  

                         Sebelum decoding                             Setelah decoding
Gambar diatas menerangkan dimana Proyektor akan menampilkan bergantian dari subframe yang digambarkan dengan warna biru (kiri) dan merah (kanan)Format 3D Side by Side termasuk dalam kategori format 3D Frame Compatible atau “Side-by-Side Half”, dimana setiap sub-frame dari frame full HD (sebagai contoh 960 X 1080 untuk menggantikan 1920 X 1080 untuk model 1080p). Jadi setiap sub-frame hanya memiliki resolusi setengah (960 X 1080) dari resolusi Full HD (1920 X 1080) yang seharusnya. Hal ini memungkinkan setiap frame untuk memiliki ukuran yang sama seperti 2D HD yang umum, jadi akan memudahkan dalam melakukan proses transfer dan dapat dimainkan pada peralatan yang belum mensupport HDMI 1.4, misalnya HDMI 1.3. 

Format 3D Top and Bottom or Over Under
Format ini hampir mirip dengan format 3D Side by Side. Kecuali bentuk sub-frame yang bertumpu pada sumbu horisontal dimana sub-frame untuk mata kiri ditumpuk diatas sub-frame untuk mata kanan. Sama dengan Side by Side 3D, dimana Proyektor 3D menerima signal 3D dalam bentuk format Top Bottom, Proyektor akan memproses frame dengan merubah frame tsb menjadi sub-frame untuk tiap mata dan kemudian menampilkan sub-frame tsb secara Frame Sequential.
Format Over Under
Format 3D Frame Packing
Frame Packing sebenarnya bukan definisi dari sebuah format, tetapi melainkan lebih kepada sebuah referensi yang menerangkan bagaimana frame dari sinyal 3D digabungkan bersama.
Istilah ‘Frame Packing’ digunakan untuk mereferensikan content 3D yang memiliki sub-frame untuk mata kiri dan kanan digabungkan kedalam sebuah frame yang menggunakan format 3D seperti Top and Botton atau Side by Side tanpa kehilangan setengah resolusi untuk setiap sub-frame.
Jadi format Frame Packing dapat menyediakan kualitas gambar yang sangat baik karena setiap sub-frame tetap memiliki resolusi Full HD dimana resolusi yang dihasilkan mempunyai resolusi 2X dari resolusi yang terdapat pada HD 2D. Pada spesifikasi HDMI 1.3a, 1.3b, 1.3c dan 1.4, format 3D Top and Bottom adalah metodeFrame Packing yang digunakan.

Blu-Ray 3D or Format Full High Definition 3D (FHD3D)
Format FHD3D adalah format 3D yang loss less dimana format ini dapat menyediakan gambar dengan kualitas Full HD. Format Frame Packing ini adalah sebuah (single) frame yang terdiri dari 2 buah sub-frame (dimana tiap sub-frame ditujukan untuk satu buah mata), dibentuk dengan format 3D Top and Bottom. Fitur utama dari format ini adalah setiap sub-frame dapat menggunakan Full HD resolusi, yaitu 1920 X 1080 untuk gambar 1080p dan 1280 X 720 untuk gambar 720p. Dalam sebuah frame Full HD 3D (FHD3D) sebenarnya terdapat dua buah sub frame dimana masing2 subframe ditujukan secara spesifik untuk masing2 mata (mata kiri dan kanan) dengan resolusi 1080p untuk masing2 frame / mata (lihat contoh gambar dibawah).





Subframe tsb ditumpuk secara vertical satu diatas lainnya, sehingga total resolusi dari frame FHD3D akan menjadi 2buah subframe atau 2 x 1920 X 1080 atau 1920 X 2160. Kedua buah subframe tersebut dipisahkan oleh sebuah buffer zone (blanking zone) sebesar 1920 X 45 pixel, sehingga total resolusi FHD3D menjadi 1920 X 2205 = (1920 X 2160) + (1920 X 45).

Teknologi 3D pada Proyektor

Terdapat dua konsep teknologi 3D yang umum di pasaran. Yaitu 3D Ready dan 3D Full HD. Dua konsep ini sama-sama memakai LCD Shutter Glass Active untuk menciptakan tampilan 3D, tetapi dua konsep ini berbeda pemakaian format dan hasil tampilan 3D. secara umum 3D ready dipakai oleh proyektor kelas Middle – Low yang berteknologi DLP. Sedangkan 3D Full HD adalah konsep 3D yang dipakai untuk proyektor kelas Home Theater.

3D Ready
jika anda berfikir Proyektor 3D Ready dapat menayangkan semua format 3D, itu tidak sepenuhnya benar!!
Konsep 3D ready sendiri hampir sama dengan konsep HD Ready, dengan kata “Ready” yang berarti siap tetapi belum tentu dapat sepenuhnya bisa ditampilkan. HD Ready adalah sebutan untuk format video High Definition 1280 x 720. Berbeda dengan Full HD yang mempunyai resolusi 1920 x 1080.jadi HD Ready “belum” Full HD. Kalau begitu format apa yang dapat ditayangkan oleh proyektor 3D Ready? Format Frame Sequential dan Over Under.
Proyektor 3D Ready adalah proyektor  yang dapat menampilkan setidaknya 1 format 3D Stereoscopic atau frame sequential tetapi tidak untuk Format 3D Full HD ( Frame Packing).

3D Full HD
Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, 3D Full HD adalah konsep 3D yang dipakai pada 3D Blu ray dengan format Full High Definition 3D (FHD3D).  proyektor dengan kelas Home Theater memakai konsep 3D ini karena mempunyai native resolution Full HD (1920 x 1080) yang memungkinkan kita untuk dapat melihat efek 3D secara lebih baik. Di pasaran pun, content 3D Blu ray juga sangat mudah kita dapatkan dibandingkan content yang dipakai untuk 3D Ready.

Adapun hal – hal yang perlu diperhatikan untuk menampilkan 3D pada home Theater  3D Proyektor adalah :
·        Media Player harus kompatibel dengan 3D dalam hal ini adalah Blu-ray Player 3D Full HD, Playstation 3 atau Digital Media Player yang support 3D full HD.
·        Content yang digunakan juga harus 3D dalam hal ini adalah Film Blu-ray 3D
·        Pastikan menggunakan koneksi HDMI 1.3a, 1.3b, 1.3c atau 1.4 antara media player dan Proyektor.


Teknologi 3D yang digunakan pada Bioskop

RealD 3D
Teknologi 3D ini yang paling umum digunakan pada bioskop2 di dunia untuk memutar film-film 3D. RealD 3D menggunakan polarisasi cahaya sirkular dengan kacamata polarisasi sehingga mata kiri dan kanan akan melihat gambar yang “sedikit berbeda”. Dengan menggunakan polarisasi sirkular maka penonton dapat menggerakan kepala kekiri dan kekanan dan melihat layar secara natural tanpa harus kehilangan efek 3D.

Detail RealD 3D
RealD 3D menggunakan sebuah proyektor digital dengan resolusi tinggi (sedangkan teknologi 3D model lama menggunakan proyektor sebanyak 2 buah) dan layar perak khusus (harganya sangat mahal) untuk menghasilkan gambar dengan efek 3D. Walaupun menggunakan layar khusus, RealD 3D tetap merupakan teknologi 3D dengan biaya termurah dan paling populer. Kaca mata polarisasi sirkular berharga lebih murah dibandingkan dengan kaca mata yang dipakai pada Dolby 3D atau LCD Shutter.

Contoh Kacamata RealD 3D

Pada sistem ini, proyektor akan menampilkan 144 frame per detik atau sebanyak 72 frame per mata. Sebagai catatan standart frame untuk video hanya sebesar 23 frames per detik. Setiap frame akan diproyeksikan sebanyak 3 kali per mata untuk mengurangi masalah flickering. Setiap frame dipolarisasi oleh proyektor searah jarum jam untuk mata kanan dan arah berlawanan dengan jarum jam untuk mata kiri dengan menggunakan peralatan khusus yang disebut Z-Screen modulator yang ditempatkan didepan proyektor.

Efek 3D pada RealD 3D dan Dolby 3D lebih terlihat natural daripada stereoscopic atau teknologi IMAX model lama. Film 3D generasi awal memerlukan layar 3D yang khusus dan layar 3D ini cenderung memberikan efek yang berlebihan. Sedangkan pada teknologi 3D yang baru hal ini akan terlihat lebih realistis dan lebih lembut (malah mungkin beberapa orang yang merasakan kurang pada efek 3D pada awalnya).

IMAX 3D
Menggunakan layar dan ukuran film yang jauh lebih besar dibandingkan dengan layar film tradisional. Bioskop IMAX mempunyai ukuran sangat besar dengan layar dan suara yang mengagumkan yang memungkinkan kita duduk nyaman didepan layar.

Bioskop IMAX umumnya masih menggunakan teknologi analog lama yang menggunakan kaca mata 3D polarisasi linear. Dengan kaca mata ini, jika penonton menggerakan kepalanya maka efek 3D akan hilang. Hal ini dapat mengakibatkan sakit kepala dan rasa mual untuk sebagian orang jika mereka jika tidak duduk tepat kearah layar.
IMAX telah mengenalkan proyektor digital dengan memakai LCD shutter glasses, sebagai solusi dari masalah yang ada pada teknologi IMAX yang lama. Sayangnya system digital ini belum banyak digunakan pada bioskop IMAX yang ada.

Detail IMAX 3D
Bioskop IMAX analog menggunakan film 70 mm (standart hanya 35 mm) untuk mendapatkan resolusi yang lebih besar yang diperlukan pada layar yang lebih besar. Kaca mata IMAX polarisasi linear ini sangat besar dan banyak orang yang mengalami masalah karena tidak cocok dengan kaca mata ini. Seperti yang didiskusikan diatas, penggunaan polarisasi linear berarti penonton harus duduk diposisi tengah dari layar agar tampilan efek 3D bekerja dengan tepat.
IMAX memperkenalkan versi digital pada tahun 2008 tetapi tidak banyak bioskop yang menerima teknologi baru ini karena masalah biaya dan issue lainnya. Versi digital ini tidak mempunyai layar sebesar bioskop IMAX yang standart dan harga kaca matanyalebih mahal.
Pada sistem 3D IMAX Digital, layar akan berkedip sebanyak 48 kali per detik. Sedangkan proyektor akan menampilkan film sebanyak 96 frame per detik sehingga setiap mata hanya melihat sebanyak 48 frame per detik. Ketika layar berkedip semakin pelan, maka semakin besar kemungkinan mendapatkan rasa sakit kepala ketika menyaksikan film.

Contoh Kaca mata IMAX 3D

DOLBY 3D
Teknologi 3D terbaru dan bila dilihat dari segi 3D, teknologi ini adalah teknologi terbaik untuk menonton film 3D. Kaca mata polarisasi yang digunakan lebih mahal daripada kaca mata IMAX atau Real 3D tetapi sangat bermanfaat.

Setiap lensa pada kaca mata Dolby 3D mempunyai beberapa lapisan yang berbeda untuk memfilter cahaya frekwensi tertentu. Lensa tersebut juga akan menghasilkan efek 3D yang lebih baik. Dengan Dolby 3D maka kemungkinan akan terjadinya sakit kepala akan berkurang, tetapi masih sedikit bioskop yang menggunakan teknologi ini

Detail DOLBY 3D
Dolby 3D menggunakan proyektor Dolby Digital Camera yang dapat menampilkan film 2D dan 3D. Untuk memutar film 3D diperlukan alternate color wheel yang mempunyai tambahan filter merah, hijau dan biru dari color wheel yang biasa ada. Tambahan filter ini akan menghasilkan color gamut seperti pada 3 filter warna yang standart tetapi cahaya dikirim dengan panjang gelombang yang berbeda.

Bioskop Dolby 3D Digital menggunakan teknik polarisasi yang digabung dengan filter warna khusus untuk menghasilkan gambar 3D yang lebih baik. Dolby 3D tidak memerlukan layar khusus untuk menjalankan polarisasi tetapi kaca mata yang digunakan lebih mahal. Seperti pada RealD 3D, penonton dapat menggerakan kepalanya dan hampir tidak memiliki efek ghosting.

Dibandingkan dengan teknologi 3D yang lain, Dolby 3D memliki gambar yang lebih tajam, lebih jelas, contrast dan warna lebih hidup khususnya untuk tampilan pada adegan yang gelap. Keuntungan utama dari teknologi 3D ini dibandingkan dengan RealD 3D adalah teknologi Dolby 3D dapat dijalankan dengan menggunakan layar konvensional / standar.